Diposkan pada Puisi, Quotes, Sajak

Hujan adalah Cita-Citanya

Percikannya mengiris ingatan demi ingatan masa kecil. Bagaimana ia sangat mencintainya. Bahkan, meski dilarang ia tetap melawan. Sampai satu hari menjelang dewasa, ia bertanya mengapa dan kenapa. Sampai satu hari, ia mendapatkannya.

Hujan, tentang merajut ingatan-ingatan. Hujan kali ini tentang senang dan mabuk kepayang. Ah, hujan! Aku rindu bermain dengan mereka, para penenun hujan.

Untuk kalian yang pernah membersamaiku dengan hujan.

Iklan
Diposkan pada Puisi, Quotes, Sajak

Tanda Baca

Titik menjadi batas akhir antara aku dan kamu. Setelah seru membuat tanda tanya berkecamuk pada tiap kata, pada tiap hentakan dada. Dan koma hanya mampu memberi jeda, sesaat. Ketika spasi semakin membuat kita berhasil untuk menjaga jarak. Maka biarkanlah titik yang menjadi penyelamat, biarkanlah titik yang membuat kita bernafas sejenak, membuat kita rehat pada tiap kata-kata.

Diposkan pada Puisi, Quotes, Sajak

Benci Kopi, Pernah!

Pernah membencinya, sebegitunya. Tanpa merasakan terlebih dahulu apa yang dia benci. Hanya mendengarkan kata orang, kata mereka. Bahwa kopi itu pahit, kamu tidak akan suka menegaknya.

Rupanya, tidak ada yang benar-benar membenci juga tidak ada yang benar-benar mencinta. Begitu juga dengan dia, dengan hikmat dia menikmati kopi yang diiyakan kepahitannya.

Karena kopi itu jujur, ia sudah berkata pahit meskipun sudah ditambah gula, ia hanya mampu jadi pemanis dan akan tetap menyisakan pahit.

Diposkan pada Puisi, Quotes, Sajak

Rak Buku yang Menemukanmu

Di tiap rak buku yang berjajar rapih, ku cari kamu.

Ku baca satu per satu hingga muncul pertanyaan baru, dimana kamu.

Lalu, buku lainnya pun teriak dan menunggu untuk ku baca, memintaku.

Sampai akhirnya, ku temukan kamu. Tak ada di jajaran, tapi kamu berserakan, di tinta para penulis atau dicelotehan para politis yang otaknya mulai puitis.

Ah, kamu memang selalu menjadi candu bagi kami para pengadu yang suka mengaduk. Kopi, misalnya. Hujan, misalnya. Atau tetap kamu, pintu imajinasiku, jendela kreativitasku.

2015, di kota kelahiran.

Diposkan pada Puisi, Quotes, Sajak

Karena Senja

Sudah berapa kali ku tulis, senja akan selalu menawarkan berjuta warna untukmu. Sabar sejenak wahai kisanak.

Karena senja adalah canda kita yang tertunda. Karena senja akan mempertemukan mata kita pada satu cahaya. Karena senja akan menyatukan hati kita pada satu asa. Karena senja tak pernah berburuk sangka pada kuasa Sang Pencipta.

Diposkan pada Puisi, Quotes, Sajak

Terima Kasih Kata-Kata

Berterima kasihlah kepada kata-kata. Sebab ia mampu membuat kita bertegur sapa. Sebab ia mampu membuat sapa menjadi tawa. Sebab ia mampu membuat tawa menjadi canda. Sebab ia mampu membuat canda menjadi suka. Sebab ia mampu membuat suka menjadi cinta. Sebab ia mampu membuat cinta menjadi luka. Sebab kata mampu menghantarkan sebuah rasa.

Berterima kasihlah kepada kata-kata. Tanpanya tak ada senja yang indah melalui jari-jari seorang penulis. Tanpanya tak ada langkah yang seirama melalui kaki seorang pelari. Tanpanya, seolah panca indera menjadi buta sebab tak mampu berbicara melalui kata-kata.

Diposkan pada Puisi, Quotes, Sajak

Harapan di Kamis Manis

Kamis ini terlalu manis untuk jiwa yang sedang tak ingin menangis dan harapan yang tak lagi mengais. Aku tak akan lagi lantang atau bahkan berteriak kencang untukmu, lagi dan lagi. Tapi tak juga ku mengiyakan mereka, ku biarkan saja mereka berlalu lalang di hidupku. Biarkan kenangan tentangmu tak ku buang, agar tetap aku bisa menolehmu ke belakang, sesaat sebelum roda besi itu perlahan berjalan meninggalkan sebuah pelajaran.

Untukmu, ku harapkan segera datang dan semoga kita tak saling mengekang.