Diposkan pada Puisi, Quotes, Sajak

Menantimu

Menunggu yang paling ditunggu, matahari.

Resah menunggu senja, bahagia menanti fajar.

Ia pasti, datang dan kembali. Pun, terkadang tak ragu memberi kesempatanmu lagi dan lagi.

Iklan
Diposkan pada Puisi, Quotes, Sajak

Mencurigai Aku

Tak ada yang lebih baik selain mencurigai diri kita sendiri.

Mencurigai lisan kita, apakah manisnya tidak semanis apa yang ada dihati kita. Mencurigai lisan kita, apakah ia menyakitkan yang mendengarnya.

Mencurigai perbuatan kita, apakah ia berbuat hanya karena ingin dipandang yang lain baik. Mencurigai perbuatan kita, apakah ia berbuat hanya karena ingin dianggap ada dan sama.

Mencurigai sudut pandang kita, menganggap yang lain buruk karena selalu merasa baik, menganggap yang lain budak karena selalu merasa dewa.

Mencurigai diri sendiri, adalah penting. Toh, mawar tidak akan pernah semerbak melati pun melati tidak akan pernah secantik mawar.

Silakan mencurigai diri sendiri, curiga akan hati kecilmu, curiga akan prasangkamu dan maafkanlah dirimu.

Diposkan pada Puisi, Quotes, Sajak

Hujan adalah Cita-Citanya

Percikannya mengiris ingatan demi ingatan masa kecil. Bagaimana ia sangat mencintainya. Bahkan, meski dilarang ia tetap melawan. Sampai satu hari menjelang dewasa, ia bertanya mengapa dan kenapa. Sampai satu hari, ia mendapatkannya.

Hujan, tentang merajut ingatan-ingatan. Hujan kali ini tentang senang dan mabuk kepayang. Ah, hujan! Aku rindu bermain dengan mereka, para penenun hujan.

Untuk kalian yang pernah membersamaiku dengan hujan.

Diposkan pada Puisi, Quotes, Sajak

Tanda Baca

Titik menjadi batas akhir antara aku dan kamu. Setelah seru membuat tanda tanya berkecamuk pada tiap kata, pada tiap hentakan dada. Dan koma hanya mampu memberi jeda, sesaat. Ketika spasi semakin membuat kita berhasil untuk menjaga jarak. Maka biarkanlah titik yang menjadi penyelamat, biarkanlah titik yang membuat kita bernafas sejenak, membuat kita rehat pada tiap kata-kata.

Diposkan pada Puisi, Quotes, Sajak

Benci Kopi, Pernah!

Pernah membencinya, sebegitunya. Tanpa merasakan terlebih dahulu apa yang dia benci. Hanya mendengarkan kata orang, kata mereka. Bahwa kopi itu pahit, kamu tidak akan suka menegaknya.

Rupanya, tidak ada yang benar-benar membenci juga tidak ada yang benar-benar mencinta. Begitu juga dengan dia, dengan hikmat dia menikmati kopi yang diiyakan kepahitannya.

Karena kopi itu jujur, ia sudah berkata pahit meskipun sudah ditambah gula, ia hanya mampu jadi pemanis dan akan tetap menyisakan pahit.

Diposkan pada Puisi, Quotes, Sajak

Rak Buku yang Menemukanmu

Di tiap rak buku yang berjajar rapih, ku cari kamu.

Ku baca satu per satu hingga muncul pertanyaan baru, dimana kamu.

Lalu, buku lainnya pun teriak dan menunggu untuk ku baca, memintaku.

Sampai akhirnya, ku temukan kamu. Tak ada di jajaran, tapi kamu berserakan, di tinta para penulis atau dicelotehan para politis yang otaknya mulai puitis.

Ah, kamu memang selalu menjadi candu bagi kami para pengadu yang suka mengaduk. Kopi, misalnya. Hujan, misalnya. Atau tetap kamu, pintu imajinasiku, jendela kreativitasku.

2015, di kota kelahiran.

Diposkan pada Puisi, Quotes, Sajak

Karena Senja

Sudah berapa kali ku tulis, senja akan selalu menawarkan berjuta warna untukmu. Sabar sejenak wahai kisanak.

Karena senja adalah canda kita yang tertunda. Karena senja akan mempertemukan mata kita pada satu cahaya. Karena senja akan menyatukan hati kita pada satu asa. Karena senja tak pernah berburuk sangka pada kuasa Sang Pencipta.

Diposkan pada Puisi, Quotes, Sajak

Terima Kasih Kata-Kata

Berterima kasihlah kepada kata-kata. Sebab ia mampu membuat kita bertegur sapa. Sebab ia mampu membuat sapa menjadi tawa. Sebab ia mampu membuat tawa menjadi canda. Sebab ia mampu membuat canda menjadi suka. Sebab ia mampu membuat suka menjadi cinta. Sebab ia mampu membuat cinta menjadi luka. Sebab kata mampu menghantarkan sebuah rasa.

Berterima kasihlah kepada kata-kata. Tanpanya tak ada senja yang indah melalui jari-jari seorang penulis. Tanpanya tak ada langkah yang seirama melalui kaki seorang pelari. Tanpanya, seolah panca indera menjadi buta sebab tak mampu berbicara melalui kata-kata.