Diposkan pada Catatan Sebuah Perjalanan, TPN2017, Volunteering

Perjalanan Taat Tanpa Pecut (I)

Teringat saat kecil, beberapa teman sebaya harus pulang ke rumah sebelum matahari terbenam dengan kesadaran sendiri, dengan teriakan Ibu Ayah atau dengan tarikan atau jeweran. Aku pun pernah mengalaminya, pergi main ke TK di depan rumah dengan menaiki tiang listrik, bermain bola di lapangan dengan teman-teman (karena teman bermainku lebih banyak lelaki) dan pulang harus menunggu Bapak (bukan dipanggil tetapi karena tidak bisa turun dari tiang listrik).

Atau saat sekolah, aku dan mungkin juga beberapa orang lainnya pernah mengalami membenci satu mata pelajaran karena hukuman yang diberikan malah membuat kami meremehkan pelajaran tersebut atau malah merasa senang karena hukuman hanya sebatas berdiri di depan kelas, lari di lapangan atau di pecut dengan kemoceng atau sapu.

Disiplin itu apa ya? Peraturan yang dibuat tanpa melibatkan lalu harus mengikutinya? Aku tidak bisa ternyata mengikuti disiplin tanpa ada alasan logis dan terus terjadi menjadi seorang penabrak aturan. Lanjutkan membaca “Perjalanan Taat Tanpa Pecut (I)”

Iklan
Diposkan pada Catatan Sebuah Perjalanan, TPN2017

Tentang Tempat Berteduhku – TPN 2017 (1)

Sore itu penerbanganku ditunda, selama empat jam tanpa ada pemberitahuan kapan aku akan dibawa menuju pulau seberang. Ada rasa tak enak, karena Host Parentku harus menunggu aku yang entah akan datang kapan. Ada rasa tak enak, ketika harus bertamu di waktu yang tidak ketahui kapan datangnya. Dengan rasa tidak enak, aku berkata, “Maaf bu, mungkin saya akan mencari penginapan di sekitar bandara saja.” Namun, berselang jam kemudian aku pun merasa bersalah. Sudah diatur dengan panitia tetapi aku malah memilih menginap tempat lain dahulu lantaran rasa tidak enak. Lanjutkan membaca “Tentang Tempat Berteduhku – TPN 2017 (1)”

Diposkan pada Catatan Sebuah Perjalanan, Travelling

Menjejakan Hati di Angin Mamiri

2551

Tepat di pergantian hari, aku mendaratkan kaki di Sulawesi Selatan. Aku duduk di luar sambil menunggu Way dan Tini datang, mereka akan mengantarkanku menginap di rumah Tini sebelum memulai cerita disini. Kemudian kami berjalan-jalan untuk mencari tempat makan sebelum beristirahat.

Pagi itu aku sudah terbangun di kamar Tini, iya. Tini adalah salah satu teman relawan yang tinggal di Makassar. Kami sarapan lalu kami bergegas untuk bertualang ke kabupaten sebelah yang terkenal dengan kupu-kupunya, Maros dengan menunggangi motor (biar macam Rossi). Kurang lebih kami tempuh sekitar 1 jam 30 menit. Lanjutkan membaca “Menjejakan Hati di Angin Mamiri”

Diposkan pada Catatan Hati, Catatan Sebuah Perjalanan, Catatan Sesuka Hati

Belajar Memaknai Hidup Dari Anak-Anak

1159

Kamu bisa belajar kejujuran dan kedewasaan dari mereka. Lihat dan perhatikan, bagaimana mereka mengatakan dan menyatakan suatu realita. Kejujuran memang lekat dengan kepahitan. Tak terima, berdebat hebat sesaat lantas kemudian tetap berpeluk sebagai sahabat bahkan semakin erat.

Tapi tak semua dari kita, yang katanya dewasa dapat menerima kepahitan dan juga kesakitan secara bersamaan dari sebuah kejujuran. Bahkan berdebat sesaat saja, akan membuat kita semakin berjarak.

 

Diposkan pada Catatan Sebuah Perjalanan, Volunteering

#Tantangan17anIM Terpenuhi!

1663
Menjawab #Tantangan17anIM atas donasi yang telah berhasil dicapai karena berhasil menggalang dana dari orang-orang baik dengan ngamen di Kambang Iwak. Ngamen dengan memakai baju adat Palembang. Haduh! Serius deh, sebenernya agak gak punya nyali dan takut diketawain orang apalagi pasti rame banget dan aku akan menjadi seseorang yang mencolok disana.

1892

Berbekal dengan janji, aku akan memenuhinya. Lagian, jadi beda itu asik kok! Aku bakal diketawain? Yaudah gpp, kan mereka belum tahu aku ngelakuinnya kenapa. Nanti pasti mereka bertanya, aku ngapain sih! Kebetulan momennya pas dengan CFD Ruang Berbagi Ilmu serentak di 4 kota dan juga donasi Sedekah Buku Indonesia. Lumayan, ada teman-teman tempat ngomel kalo dilirikin tajam sama pengunjung.

1966
Ng-dangdut bareng Satpol PP Palembang! Duh, yaudah pokoknya bayar utang lo Mahayu!
1894
Request dangdutan bareng sama anak-anak IDS! Petjah!!!
1876
Taraaaaa! Ketemu pasangan idola, salah satu dirut bank di Sumsel. Hai Om dan Tante. Mereka agak surprise dengan fashion hari itu, HAHA!

Conclusion is jangan takut untuk terlihat beda selama beda itu untuk kebaikan. Duh, kalo dibilang urat malu udah putus ya salah banget! Bahkan setelah memnuhi tantangan, aku jadi agak malu untuk buka folder foto atau bahkan untuk menguploadnya pun aku belum sanggup tetapi karena sudah beberapa bulan, ya aku posting disini. HAHA! Terima kasih untuk teman-teman yang sudah mau berdonasi melalui aku untuk anak-anak di Dama Beuleun, Aceh Utara!

Diposkan pada Catatan Sebuah Perjalanan, Volunteering

SBI: The Power Of Being Volunteer

1466

The power of being volunteer is connecting other people! Notifikasi di grup relawanku saat itu seperti ini, “Kalian tahu gak sekolah mana yang layak dapat donasi buku? Temenku ada yang mau ke Palembang nih buat kasih donasi buku, ucap Asep.” Aku pun langsung japri, aku mau donk kang buat sekolah penempatan anak-anak Pengajar Muda, mereka masih kekurangan sumber belajar dan bacaan nih. Saat itu juga kontakku diberikan kepada foundernya, Teh Ugha (tapi belum keep in touch dan aku pun belum tahu namanya saat itu). Lanjutkan membaca “SBI: The Power Of Being Volunteer”