Pentingnya Memahami Bukan Menghakimi

Mas Adjie Post
Taking from Mas Adjie Santoso’s Sosmed

Mungkin bagi sebagian orang, melihat orang pergi ke bioskop dan menonton sendiri itu “Aneh”?
Mungkin bagi sebagian orang, melihat orang-orang memakai baju dengan warna senada itu “Aneh”?
Sebentar, sebelum memandang atau menilai sesuatu aneh. Bolehkah saya meminta waktu sejenak untuk kita berefleksi,
Kenapa Aneh? Apa hal yang kamu atau kita bilang aneh itu menganggu bahkan sampai merugikan? Jadi, kenapa mudah sekali berucap aneh?

Saya mengamati, begitu mudahnya lisan kita berucap dari pikiran kita yang sukanya selalu instan, tanpa pernah berpikir sebab akibat.
Kenapa seseorang bertindak A? Kenapa seseorang berkata B? Kenapa dan Kenapa? Mungkin kalau kita terbiasa dengan memulai sesuatu dengan menjawab kenapa, akan lebih sejuk hati dan pikiran dalam memandang suatu kejadian bukan dengan teriakan atau makian.

Menjadi pendiam bukan berarti tidak peka, beberapa situasi saya memilih untuk mengamati ketimbang ikut dalam perang negara api. Merekam dan mencatat setiap kejadian yang saya atau orang lain alami, akan lebih baik juga untuk menjadi bahan refleksi diri.

Sering saya bertanya dan tergelitik kenapa orang yang katanya bertambah usia dan bertambah dewasa, nyatanya tidak sama sekali. Mereka suka sekali menceramahi bahkan menghakimi apa-apa yang menurut mereka tidak sesuai dalam kamus mereka, tanpa ada kesempatan untuk berdiskusi. Mungkin ini bisa menjadi gambaran percakapan yang kerap kali terjadi:

A: Kamu kenapa belum menghabiskan makanan?
B: Iya belum habis
A: Tinggal makan aja susah, cari uang gak, kerja juga gak. Habisin.
B: *Menangis*
A: Baru diomongin gitu aja nangis, dikit-dikit nangis.
B: *Mengelap air mata sambil menahan tangis*
A: Diem gak? Nanti piring ini saya lempar.

Memulai dengan pertanyaan tanpa menemukan jawaban, hanya melempar pernyataan yang cenderung menghakimi. Biar apa? Biar makanan dihabisi atau apa? Sesulit itu ya mencoba untuk memahami orang lain.

Ini hanya secuil gambaran, masih banyak mungkin percakapan yang lebih menyakitkan dan pernyataan yang menghakimi. Namun saya yakin, masih banyak juga orang yang mencoba lepas dengan mencari cara terbaik, hal terpenting meski sudah menjadi korban jangan pernah ‘playing victim’. Berikut tips untuk memahami orang lain:

1. Pahami Sudut Pandang, setiap orang memiliki sudut pandang berbeda, semakin banyak bertemu dengan orang baru, semakin pula banyak kesempatan kita menggali pandangan baru tentang suatu hal. Ada beberapa sudut pandang yang sama dan ada juga beberapa sudut pandang yang mungkin bertolak belakang dengan keyakinan kita, hal terpenting adalah mencoba memahami bukan menghakimi.

2. Pahami Gaya Bicara, ada kalanya teman akrab yang kita anggap ceria suatu hari saat ditanya kabar malah nada bicaranya tinggi. Jangan sakit hati, mungkin saat itu dia sedang dalam kondisi yang membuat hatinya tidak baik. Menurut saya, berbicara merupakan salah satu takaran untuk mengetahui seseorang dalam kondisi baik, dalam tekananan, berbohong, berpengalaman, dsb meski tidak 100% kita paham. Karena awal mulanya suatu tindakan adalah perkataan.

3. Menjadi Pendengar yang baik, hal tersulit karena kebanyakan kita lebih suka berbicara dibandingkan mendengar. Mendengar bisa menjadi pintu kita memahami orang lain, apa yang dirasa, apa yang dipikir atau apa yang dimau. Coba latih, bagaimana menjadi pendengar yang baik bukan menjadi penghakim yang handal.

3 Tips Simple untuk memahami orang lain, mungkin respon yang terjadi seperti ini:
Ketika melihat orang pergi ke bioskop dan menonton sendiri, “Oh, mungkin memang cara menikmati film seperti itu”.
Ketika melihat orang-orang memakai baju dengan warna senada, “Hm, lucu ya cara menunjukkan kekompakkan persahabatan mereka”
Atau percakapan seperti ini:

A: Kamu kenapa belum menghabiskan makanan?
B: Iya belum habis
A: Apa yang bisa bantu kamu menghabiskan makanan?
B: Aku mau telor goreng pakai kecap
A: Oh, yang ada di meja ya? Mau berapa?
B: Iya, mau satu aja.
A: Ini telornya, habiskan ya sesuai ucapanmu.

Jadi gimana? Enakan yang mana? Enakan zamanku toh?
Ya jelas tidak donk, enakan zaman now dimana kita bisa memilih cara untuk menghadapi tantangan kehidupan salah satunya adalah dengan memahami bukan menghakimi. Yuk ubah perilaku mulai dari perkataan, gunakan kalimat positif untuk membuat energi dan hidup makin positif.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s