Cinta Terbit di Jakarta

Aku senang dengan kepindahanku kali ini meski bukan di Jakarta, namun kota yang ku tinggali sangat menyenangkan juga menenangkan. Hal penting kotaku sekarang tidak bising, kalau mau ke Jakarta aku tak perlu bersusah untuk menunggu jadwal yang tepat.

Cinta Terbit di Jakarta

Beberapa kali aku mengeluh tentang sesaknya transportasi umum menuju Jakarta, ya tentang menghadiri rapat atau menambah kolega, Jakarta memang tempatnya. Tapi, tetap saja aku mengeluh entah karena menunggu antrian jalan tol atau terhimpit di dalam kereta. Kalau moodku tidak baik atau bajuku basah, ya hanya dua itu pilihannya.

Mungkin aku hanya perlu terbiasa dengan keadaan.

Selang waktu berlalu, aku tetap merasa sesak yang sesungguhnya sesak di keramaian. Kereta adalah moda sang pemuja cepat sampai di tempat rapat dan tetap ingin berangkat siang, itu aku. Aku menaikinya lagi, meski kali ini keluhku sudah berkurang namun peluhku terus saja bertambah.

Ku lihat mereka, berjalan dengan cepat, mendorong dengan nikmat atau berteriak dengan lantang, hanya untuk muat di dalam kereta atau berusaha agar dapat keluar dari kereta.

Ku amati mereka yang berjuang disini. Aku tersenyum, sambil melayangkan pikiranku menuju senja yang mungkin lebih melekat di kepala mereka. Bagaimana kabar senja? Masih indah dengan menyimpan duka atau masih betah untuk mengumpati luka. Atau, bagaimana kabar kereta saat senja tiba? Situasi bertambah aroma dan bertambah ingin mengumpat atau bagaimana? Aku belum pernah menyusuri senja dengan kereta.

Namun bagiku, fajar lebih indah. Karena kita mulai dengan doa dan harapan indah agar hari berjalan lancar. Agar usaha hari ini diberkati Tuhan, agar Tuhan memberi rezeki pada setiap umatnya dan agar Tuhan mengabulkan permintaan hamba-Nya.

Fajar pun membuat keluarga saling menyapa dan juga bercengkerama di meja makan untuk sarapan atau sekedar mengingatkan bawa makanan atau jangan lupa makan. Membuat para murid dan guru bergegas bangun untuk segera bertemu. Mengingatkan sang pujaan hati untuk tak lupa berkabar jika sudah sampai di kantor atau mengingatkan untuk mandi agar harinya wangi. Para Ibu sudah bersiap untuk berada di garda depan untuk mengawali hari keluarganya. Sang Ayah pun sudah semangat mencari nafkah untuk keberlangsungan hidup keluarganya. Maha Kuasa pun menunggu ucapan syukur hamba-Nya bahwa mereka masih diberikan kesempatan hidup dan untuk berbuat baik.

Bukankah fajar itu indah? Dan dia mesra. Menguatkan hati para pekerja agar lelahnya dapat menjadi nafkah yang berkah. Melapangkan dada bagi mereka yang terus berusaha agar tetap dapat bernafas dan melihat indahnya dunia. Menyapa hangat pemimpi yang sedang berjuang kuat mewujudkannya.

Iya. Jika senja menjadi tumpukan luka maka fajar menjadi tumpukan doa serta harap.

Aku belajar pada mereka bahwa Cinta Terbit di Langit Jakarta.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s