Refleksi Enam Bulan di Kampus Guru Cikal

Tak ada pekerjaan yang tak membuat lelah, tak ada pekerjaan malah akan membuatmu lelah bukan kepalang. Bagaimana kondisi pekerjaanmu dan juga kantormu? Apakah sudah tepat untuk membuatmu berkembang dan membuatmu menjadi ‘The Best Version of Yourself’?

Bekerja di bidang pendidikan adalah cita-cita saya. Dulu sekali ingin punya Taman Kanak-Kanak bahkan ingin jadi Dosen. Tapi proses bekerja di bidang pendidikan dan untuk berada disini cukuplah berkelok bagi saya.

WhatsApp Image 2018-09-18 at 11.20.09 (2)

Tiga bulan awal bekerja, saya pun masih penuh tanda tanya di kepala. Apa saya berada di tempat yang tepat? Ada satu tantangan lagi yang melekat di kepala saya, Apakah Bapak Ibu Guru mau berdampingan dengan saya? Iya, saya yang bukan dari background pendidikan atau psikologi dan juga pekerjaan saya sebelumnya adalah Finance Officer. Apa mereka mau belajar dari usia saya yang relatif muda, 27 tahun?

Berkenalan, berinteraksi melalui dunia maya atau nyata dan berjumpa dengan guru-guru yang bikin saya terkadang ingin mengelus dada dengan bangga dan berkata ‘Boleh Ibu atau Bapak diperbanyak? Agar makin banyak yang terpapar kebaikan dan ketulusannya.’ Terima kasih untuk penerimaannya. Ada juga yang bikin hati patah karena belum menerima, ada juga drama yang terkadang membuat saya ingin mengibarkan bendera putih.

Benar saja, beberapa guru yang berjumpa dengan saya merasa kaget. Hah, muda banget ya? Kayak anak saya (Eh, gimana kalau jodohin sama saya aja anaknya). Ada yang tetap merespon saya dengan baik, ada juga yang begitulah.

Lalu bagaimana menjalankan pekerjaannya? Begini, Panduan Memanusiakan Hubungan versi saya:

– Ucap salam tulus dari hati dan tatap rekan bicara. What comes from the heart touches the heart, begitulah bunyinya. Kenapa salam menjadi poin pertama? Karena salam adalah pintu yang membuka suara, membawa senyuman dan menebar kebahagiaan. Praktikkan dimana saja, tak hanya di lingkungan kerja ya dan rasakan dampaknya!

– Mulailah percakapan dengan komunikasi yang baik dan juga tepat, utarakan. Sambutlah mereka yang positif menerimamu, biarkan mereka yang menolakmu karena akan ada saatnya nanti atau bahkan ada yang harus berganti.

– Kata Ajaib versi Lagu Naura. Permisi, Tolong, Maaf dan Terima kasih bisa menjadi pegangan dalam menjalankan kehidupan. Menjadi dewasa itu cenderung membuat sebagian bimbang yang meradang membuat kita gengsi bukan kepalang. Ketika bingung, gunakan kata Tolong untuk meminta bantuan. Ketika salah, gunakan kata maaf agar tak salah langkah.

– K.R.A.I (Kenali, Rasakan, Akui dan Izinkan) juga membantu saya untuk melakukan refleksi. Kenapa ya saya disana mudah diterima dan disini susah? (Kenali). Bagaimana rasanya diterima dan ditolak? (Rasakan). Rupanya, pendekatan yang saya lakukan tepat untuk disini tapi belum cukup tepat untuk disana (Akui). Sedih sih ditolak, namun penolakannya karena cara saya belum tepat dan saya bisa mencari cara lain agar tepat (Izinkan). K.R.A.I menjadi panduan yang tepat untuk menjadi reflektif.

– Rawatlah! Hubungan yang sudah terbangun dan terjalin hendaknya dijaga dengan baik, minimal bertukar sapa dua bulan sekali. Efektif untuk saya.

Kenapa dengan Memanusiakan Hubungan? Pekerjaan saya berhubungan dengan manusia dengan beragam kriteria. Manusia pada dasarnya berbeda, mana mungkin saya memperlakukan dan menanggapinya dengan cara yang sama.

Sampai saat saya menulis ini, saya percaya konsep Memanusiakan Hubungan yang bisa diterapkan di kehidupan dan juga di lingkungan kerja, karena kita dirancang berbeda, namun tujuan kita sama, hidup bermakna dan berbahagia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s