Perempuan Dibeli, Orang Tua Menjual

Adat perempuan dibeli; adat orang tua menjual; kalau harta sudah di tangan apalagi akan dipersoalkan? – Perawan Dalam Cengkeraman Militer

Aku membaca kutipan ini, kutipan dari seorang Pramoedya Ananta Toer. Aku menjadikannya sebagai kalimat refleksi. Tulisan ini untukku sendiri tapi jika ada perempuan yang lain membaca ini dan merasa bertambah kekuatan hatinya, aku bersyukur.

Ini tahun 2017, masih saja banyak orang tua yang menjual anak perempuannya dan naasnya anak perempuan itu dibeli dan LAKU!

Anak-anak perempuan itu dijual dari pemikiran yang lemah dari para orang tua, bahwa perempuan hanya akan balik ke urusan dapur lantas sekolah ya sebatas SMA pun sudah cukup.

Anak-anak perempuan itu dijual dari pemikiran yang lemah dari para orang tua, bahwa apa kata tetangga lebih penting daripada apa kata anak-anak perempuan mereka.

Dua pemikiran ini lemah tak kuat fondasinya, namun mampu membuat pemikiran ini menjadi pola pikir yang turun menurun, meluas dan berimbas pada perempuan-perempuan yang tak bisa berdaya. Ini hanya bisa diputus oleh seorang, dua orang dan orang-orang yang berkeinginan kuat untuk menjadikannya seorang perempuan berdaya.

Orang tua, apakah anak perempuanmu sebegitunya menyengsarakan? Hingga kau lebih menyuruhnya untuk lekas menikah, kau lenyapkan mimpinya untuk bersekolah bahkan tak ada ruang untuknya mewujudkan cita, kau jual anak perempuanmu, kau jodohkan dengan pria yang bahkan ia tak kenal atau bahkan tak sudi untuk dinikahkan dengannya.

Orang tua, apakah masa depan perekonomian anak perempuanmu sebegitu menakutkan, takut yang akan membuatmu sengsara? Kau berikan kesempatan kepadanya untuk sekolah dan mewujudkan cita. Saat datang pria yang ingin meminangnya, kau tolak hanya karena status sosial yang berbeda. Kau terima pinangan dari mereka, pria yang berharta. Tanpa ada tanya dengan anak-anak perempuanmu dan kau hanya bisa memaksanya untuk menerima.

Orang tua, apakah perkataan anak perempuanmu sebegitu memuakan? Hingga kau lebih percaya apa kata tetangga, apa kata mereka diluaran sana yang bahkan tak merasakan luka saat kau melahirkan anak-anak perempuanmu? Kau memaksanya menikah hanya karena kau malu mendengar ucapan mereka, hanya karena kau takut anak perempuanmu menjadi perawan tua?

Perempuan, apakah perempuan yang nantinya akan menjadi seorang istri dan ibu tak layak untuk mengenyam pendidikan? Pendidikan tak hanya tentang karir, pendidikan bagi seorang perempuan adalah untuk menghasilkan generasi cerdas. Nanti ketika anak-anaknya lahir dia akan berusaha menjawab pertanyaan secara benar. Bukan mengajari anaknya suatu kebohongan yang akan mungkin ia tiru, Nanti kalau ada yang telepon bilang saja Ibu pergi.

Perempuan, coba renungkan sejenak beberapa hal ini.

Jika anakmu tak pandai dalam pelajaran, kau adalah yang paling layak disalahkan karena kau tak mampu mendidiknya. Jika anakmu tak pandai bertutur kata atau bertingkah laku, kau pula yang menanggung salah.

Jika suamimu selingkuh, kau dibilang tak becus karena tak mampu menjadi cantik, menjadi menarik dan menjadi pelacur baginya di atas kasur.

Jika kau diperkosa, kau yang disalahkan. Tak peduli alasan entah bajumu minim atau tertutup, kau tetap salah karena membuat pria bergairah. Lalu, ketika kau melahirkan anak, anakmu disebut anak haram!

Jika perekonomian keluargamu carut marut, kau yang akan disalahkan karena tak mampu mengelola keuangan.

Jika perempuan menjadi tuna susila, ia menjadi buah bibir, ia sampah masyarakat. Bandingkan jumlah perempuan yang menjadi tuna susila dengan mereka, pria yang menggunakan jasa tuna susila sebagai pemuas hasrat? Mungkin perempuan harus mampu membuat perasaan dari baja.

Tak perlu aku menuliskan apa saja jasa yang telah dibuat oleh seorang perempuan. Baiklah, itu hanya beberapa pandanganku dari kejadian yang ku lihat dan ku amati sampai saat ini. Maaf jika ada yang tersakiti dalam penulisan ini, parameter bahagia setiap orang berbeda. Lebih layak lagi, jika setiap orang terutama perempuan memiliki hak untuk berbahagia dengan jalannya. Lantas perempuan, kau memang tak bisa memilih bagaimana orang tuamu mendidikmu tapi kau masih punya kesempatan untuk memilih mau menjadi orang tua yang seperti apa dalam mendidik anak-anakmu kelak. Kau punya hak, kau berhak atas hidupmu, atas pendidikanmu dan atas cita-citamu.

Perempuan memiliki potensi untuk berkembang dan berproses menjadi seorang yang terbaik, hanya saja kebanyakan mereka belum tahu bagaimana memberdayakan potensinya. Selamat berproses menjadi perempuan!

Jangan sebut aku perempuan sejati jika hidup hanya berkalang lelaki. Tapi bukan berarti aku tidak butuh lelaki untuk aku cintai – Bumi Manusia.

“Jika kamu mendidik seorang laki-laki, sesungguhnya engkau hanya mendidik satu dari jutaan penduduk bumi. Tapi jika kamu mendidik seorang perempuan, maka sesungguhnya engkau sedang mendidik sebuah bangsa” (mantan Presiden Tanzania).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s