Perempuan Hebat Itu, Ibuku

Bu, terima kasih telah bersedia meminjamkan rahim untuk ku, terima kasih telah bertaruh nyawa demi lahirku di dunia, terima kasih telah bersedia menjadi Ibu penuh waktu untuk kami.

Maafku untuk segala kesalahan yang sengaja atau tidak sengaja ku lakukan, membuatmu menahan kantuk ketika tangisanku pecah di tengah malam, membuatmu saraf-saraf dikepalamu tegang ketika aku bermain diluar sana, membuat pita suaramu meradang ketika berkali-kali engkau mengingatkanku, menahan keinginanmu untuk masa depanku bahkan terkadang kau meneteskan air mata karena tingkah laku yang ku perbuat.

Dulu seringkali, aku kesal dan marah kepadamu ketika kau tak mengizinkanku memilih apa yang aku yakini. Acap kali kita bertengkar karena memiliki sudut pandang yang berbeda tentang beberapa hal. Berhenti dari group vokal, berhenti menari, berhenti menjadi pembawa acara, berhenti beraktivitas sosial.

Bu, yang benar saja? Bukannya Ibu dahulu menjadi seorang wanita karir sebelum menikah? Bukannya Ibu dahulu menjadi seorang pembawa acara? Bukannya Ibu juga masih beraktivitas sosial? Ibu yang mengajarkan aku untuk tidak pernah berhenti belajar, Ibu juga yang mengajarkanku untuk memiliki hati yang tulus, untuk berbagi dan apa pun tanpa pamrih. Lalu mengapa kau seakan-akan membuat harapanku sirna?

Tetapi terima kasihku untukmu, Perempuan Hebatku, Ibu. Aku tersadar saat ini, kau bukan melarangku untuk meraih mimpi-mimpiku. Tetapi kau mengajariku bagaimana bertahan didalam keyakinan, ternyata itu hanya caramu untuk membentuk mentalku agar tetap konsisten dengan pilihan, agar kelak aku bisa kuat ketika menghadapi berbagai tekanan.

Terima kasih untuk mengajarkanku kesederhanaanmu, baik dalam berpenampilan dan bertutur kata, “perkaya pemikiran dan kemampuanmu”, ucapmu Bu. Aku bersyukur terlahir dari rahim seorang muslimah sepertimu, Ibu yang mengajarkan betapa pentingnya Islam sebagai pedoman hidup. Sungguh, Ibu aku mengagumimu, aku kagum atas kecantikanmu, aku kagum atas pemikiranmu, aku kagum atas dirimu. Kau begitu mempesona, terkadang membuatku merasa kecil hati, apakah nanti aku minimal bisa  sepertimu atau melebihimu.

Terima kasih Bu atas kepercayaanmu untukku, kepercayaan dan restu darimu itu bahagia tak tertandingi untukku. Tanpa aku minta pun, kau selalu menyelipkan namaku di sepertiga malam dan ditiap-tiap doamu. Doakan aku selalu menjadi anakmu yang soleha, yang selalu membuatmu bangga, yang bisa menjadi perempuan hebat sepertimu.

Ibu, aku menyayangimu ♥
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s