Diposkan pada Catatan Sesuka Hati

KISAH SEBENTAR

Aku gak percaya hubungan jarak jauh lagi.

Kamu juga gitu, gak percaya juga dengan hubungan jarak jauh.

Lalu, kenapa kita lakukan? Lanjutkan membaca “KISAH SEBENTAR”

Iklan
Diposkan pada Catatan Sesuka Hati

Anti Baper, Sesekali Buffer

Padahal kamu terbilang cukup baru, kamu pendatang baru, lingkaran pertemananmu cukup lumayan juga disini.

Kamu itu terlihat cukup ekstrovert bagi mereka yang belum kenal, nyatanya kamu juga  seorang introvert kelas tinggi yang bikin heran orang yang mengenalmu. Kamu ambivert.

Berkawan dengan siapa pun adalah hal baik untukmu sedang bersahabat kamu harus mengujinya terlebih dahulu.

Karena baik saja tidak cukup untuk menjalin sebuah persahabatan. Lanjutkan membaca “Anti Baper, Sesekali Buffer”

Diposkan pada Catatan Sebuah Perjalanan, TPN2017, Volunteering

Perjalanan Taat Tanpa Pecut (I)

Teringat saat kecil, beberapa teman sebaya harus pulang ke rumah sebelum matahari terbenam dengan kesadaran sendiri, dengan teriakan Ibu Ayah atau dengan tarikan atau jeweran. Aku pun pernah mengalaminya, pergi main ke TK di depan rumah dengan menaiki tiang listrik, bermain bola di lapangan dengan teman-teman (karena teman bermainku lebih banyak lelaki) dan pulang harus menunggu Bapak (bukan dipanggil tetapi karena tidak bisa turun dari tiang listrik).

Atau saat sekolah, aku dan mungkin juga beberapa orang lainnya pernah mengalami membenci satu mata pelajaran karena hukuman yang diberikan malah membuat kami meremehkan pelajaran tersebut atau malah merasa senang karena hukuman hanya sebatas berdiri di depan kelas, lari di lapangan atau di pecut dengan kemoceng atau sapu.

Disiplin itu apa ya? Peraturan yang dibuat tanpa melibatkan lalu harus mengikutinya? Aku tidak bisa ternyata mengikuti disiplin tanpa ada alasan logis dan terus terjadi menjadi seorang penabrak aturan. Lanjutkan membaca “Perjalanan Taat Tanpa Pecut (I)”

Diposkan pada Catatan Sesuka Hati, PosCinta

Melepas Ragu, Kembali Utuh

01.01.2018

Tepat pergantian tahun, aku sedang berkeluh kesah dengan kasur yang hanya sejenak ku tiduri selama 30 hari belakangan ini tanpa bisa ku nikmati seperti beberapa bulan sebelumnya. Tidak menerima ajakan siapa pun untuk melihat pesta kembang api atau mendengar hingar bingar tiupan terompet khalayak ramai. Aku hanya ingin berkeluh kesah dan bermanja-manja dengan kasurku.

Aku bergegas membeli makan dengan berjalan kaki ke depan, hal yang sudah lama sudah tidak aku lakukan sejak perkembangan teknologi. Tak hanya itu, memasak pun jarang karena belum ada yang siap menjadi berisi dengan masakanku. Menghindari keramaian untuk menikmati keheningan, bentuk syukurku kepada malam yang diciptakan dan hadir setelah siang. Lanjutkan membaca “Melepas Ragu, Kembali Utuh”

Diposkan pada Catatan Sesuka Hati

Minimal Kamu Tahu

Malam ini, ku sengajakan untuk menumpahkan perasaan yang akhirnya sudah ku selesaikan meski pun entah kapan, jelasnya Desember 2017 ini aku sudah teramat merasa baik  dibanding tiga tahun sebelumnya.

Beberapa tahun terakhir, aku cukup terganggu dengan masa lalu bersamamu, orang pertama yang sudah jelas membuang berbagai kesempatanku, yang membuatku tak berhenti menyalahkan diriku sendiri. Beberapa waktu terakhir, aku menerimamu sebagai bagian dari hidupku, bagian dari pelajaranku. Ah, tidak! Aku pun turut andil melakukan kesalahan. Tak boleh menyalahkan siapa-siapa, cukup saja ku jadikan pelajaran.

Tiga tahun berlalu, apa pun itu yang aku lewati, aku masih saja sendiri. Aku memang menjaga hati dengan benar hati-hati. Tak ku biarkan seorang pun menyakiti lagi, cukup kamu saja saat itu. Sebab aku paham resiko mencintai adalah patah hati tapi bukan untuk sengaja dipatahkan.

Lanjutkan membaca “Minimal Kamu Tahu”

Diposkan pada Catatan Sesuka Hati

Teruntukmu Yang Baru

Teruntukmu, orang baru yang akan memasuki babak baru di kehidupanku. Entah untuk sementara atau selamanya. Aku hanya ingin memberitahumu sebelum langkahmu mengetuk pintu hatiku lebih jauh dan hanya akan berakhir sama seperti kisah lama, menjadi masa lalu.

Bisakah kau berdiri sejenak disana, iya tepat dimana garis baru antara aku yang baru dan dia yang lalu. Berdiri disana sajalah, sungguh. Sebentar saja, aku ingin kamu bersungguh dengan hatimu dahulu. Sudahkah kamu melepasnya dengan sukarela? Sudahkah kamu melepas masa lalumu? Atau kamu masih memiliki rasa dengannya, entah itu penyesalan atau kasih sayang. Jika sudah, ketuklah pintuku.

Tunggu, aku belum membukanya utuh. Tanyaku belum berakhir, Apakah kamu sedang mendekati perempuan selain aku? Jika iya, sudah mundur sajalah, jauh-jauh atau menghilang sajalah dari depan pintu dan segera mengenyah juga cari saja perempuan lainnya.

Jangan tanya kenapa, sebab aku hanya ingin menjadi jawaban bukan pilihan atas doa-doa seseorang yang akan menjadi masa depanku. Sebab ini bukan permainan dan aku tak ingin memulai keseriusan dengan candaan. Sebab aku hanya ingin menata kehidupan dengan dia yang mampu meneguhkan hatinya lebih dulu dan meyakinkanku utuh tanpa terburu-buru.

 

Diposkan pada Catatan Sebuah Perjalanan, TPN2017

Tentang Tempat Berteduhku – TPN 2017 (1)

Sore itu penerbanganku ditunda, selama empat jam tanpa ada pemberitahuan kapan aku akan dibawa menuju pulau seberang. Ada rasa tak enak, karena Host Parentku harus menunggu aku yang entah akan datang kapan. Ada rasa tak enak, ketika harus bertamu di waktu yang tidak ketahui kapan datangnya. Dengan rasa tidak enak, aku berkata, “Maaf bu, mungkin saya akan mencari penginapan di sekitar bandara saja.” Namun, berselang jam kemudian aku pun merasa bersalah. Sudah diatur dengan panitia tetapi aku malah memilih menginap tempat lain dahulu lantaran rasa tidak enak. Lanjutkan membaca “Tentang Tempat Berteduhku – TPN 2017 (1)”

Diposkan pada Tak Berkategori

Kopi Pulang, 9 Agustus 2017

Meraba tanpa wicara.Seperti asa yang perlahan terbawa pahitnya machiato malam ini.

Tak akan ku seka luka, biar saja ia menganga hingga tak ada lagi mereka yang tergoda untuk mendekat hanya untuk sesaat.

Pahit itu memang sakit bahkan membuat otak menjerit, hati meringkik dan ingin menjerit pada tiap temu yang menghadirkan rindu.

Tak akan lagi ku buka, juga tak akan lagi ku mencoba mengenyahkan semua tentang luka dan tawa yang pernah ada di tiap sudut kota.

Karena aku masih ingin sejenak menikmatimu melalui kata yang keluar pada tiap langkah di kota yang pernah kita amini sebagai kota kita.

Kopi Pulang, 9 Agustus 2017.

Diposkan pada Puisi, Quotes, Sajak

Menantimu

Menunggu yang paling ditunggu, matahari.

Resah menunggu senja, bahagia menanti fajar.

Ia pasti, datang dan kembali. Pun, terkadang tak ragu memberi kesempatanmu lagi dan lagi.

Diposkan pada Puisi, Quotes, Sajak

Mencurigai Aku

Tak ada yang lebih baik selain mencurigai diri kita sendiri.

Mencurigai lisan kita, apakah manisnya tidak semanis apa yang ada dihati kita. Mencurigai lisan kita, apakah ia menyakitkan yang mendengarnya.

Mencurigai perbuatan kita, apakah ia berbuat hanya karena ingin dipandang yang lain baik. Mencurigai perbuatan kita, apakah ia berbuat hanya karena ingin dianggap ada dan sama.

Mencurigai sudut pandang kita, menganggap yang lain buruk karena selalu merasa baik, menganggap yang lain budak karena selalu merasa dewa.

Mencurigai diri sendiri, adalah penting. Toh, mawar tidak akan pernah semerbak melati pun melati tidak akan pernah secantik mawar.

Silakan mencurigai diri sendiri, curiga akan hati kecilmu, curiga akan prasangkamu dan maafkanlah dirimu.